Pagi ini cerah. Terlalu cerah untuk kegundahan yang tiba-tiba muncul di dada Ardi. Setelah meneguk kopi hitam tanpa gula di Depan Gereja—ritual kecil yang selalu ia nikmati sebelum larut dalam urusan pelayanan—ia melangkah ke area gereja. Agenda hari ini jelas: menarik kabel multimedia untuk kebutuhan Natal. Pekerjaan teknis, melelahkan, tapi baginya bermakna. Natal harus dipersiapkan,…
Ardi tidak pernah membayangkan bahwa salah satu pergulatan imannya justru lahir dari hal-hal yang kelihatannya sepele di dalam gereja. Bukan soal dogma. Bukan soal iman yang goyah. Melainkan soal keputusan-keputusan kecil yang, jika dikumpulkan, terasa seperti pesan diam-diam: umat ada, tapi tidak selalu dianggap penting. Semuanya bermula dari sebuah sumbangan barang. Niat pemberinya tulus, dan…
Berdoa Rosario setiap hari, rasa-rasanya bukan lagi sekadar kewajiban rohani. Lama-lama aku melihatnya sebagai ruang kecil yang kutemukan di tengah-tengah hari yang kelewat berisik. Rasanya seperti menarik napas panjang setelah terlalu lama menahan beban yang tak kentara. Saat jari menyentuh setiap butir, pikiranku biasanya masih penuh—tentang pekerjaan, orang-orang, hal-hal yang mengganggu. Tapi perlahan, ritme doa…
Sandal jepit itu sederhana, murah, kadang dianggap sepele. Namun justru dari kesederhanaannya, ia memberi pelajaran yang menampar halus cara kita memandang diri sendiri. 1. Tidak marah meskipun selalu diinjak Sandal jepit menerima berat tubuh kita setiap hari. Ia menahan tekanan, debu, panas, dan kadang perlakuan kasar, namun tetap menjalankan fungsinya tanpa protes. Tapi di sisi…
Hari Minggu itu, Ardi datang ke Katedral seperti biasa. Ia memilih duduk di balkon sound system —tempat favoritnya sejak lama, sejak ia mulai merasa ada sesuatu dalam Gereja yang tidak lagi seperti dulu. Dari sudut itu, ia bisa melihat semuanya tanpa harus menjadi bagian dari keramaian. Lagu pembuka baru saja selesai ketika matanya tiba-tiba tertarik…
Aku harus mengakui satu hal: sering kali masalah dalam pertemanan bukan karena orang lain terlalu sensitif, tetapi karena aku terlalu merasa benar. Ego itu licik. Ia menyamar sebagai kepandaian, logika, bahkan kejujuran. Padahal ujungnya sama, hanya ingin menang, ingin diakui, ingin terlihat lebih tahu. Aku berbicara seolah sedang membantu, padahal sedang memamerkan kelebihan. Aku bercanda…
Hari ini, si bungsu genap berumur delapan tahun. Usianya masih belia, tapi langkah-langkah kecilnya telah mengisi ruang hidupku dengan warna yang tak pernah kusangka sebelumnya. Ia hadir bukan sekadar sebagai anak, melainkan sebagai denyut yang membuat hariku selalu hidup. Dengan segala hobi dan keaktifannya, ia seperti matahari kecil yang tak pernah lelah memancarkan sinar yang…
Ada hal yang selalu menarik perhatian saya: bagaimana manusia sering kali hanya menerima sesuatu dalam bentuk yang sudah terbiasa ia lihat. Begitu muncul bentuk lain, meski esensinya sama, muncul rasa asing, bahkan penolakan. Tentang sosok Bunda Maria misalnya. Sejak kecil, kita dibiasakan dengan gambaran Maria berkulit putih, berwajah Eropa, berbusana biru dan putih. Itu menjadi…
Di antara bunyi lonceng misa dan paduan suara Santika yang bertugas pagi ini, hadir satu kejutan kecil yang begitu membekas di hati. Sosok itu berdiri di sisi altar, mengenakan jubah putih misdinar—seperti 30 tahun lalu. Dia adalah Johannes Fransiskus Agung Sasmita, kawan seperjuangan kami di altar Katedral lama, kini kembali bertugas sebagai misdinar di Katedral…
Gagasan “Paspor Porta Sancta” yang digulirkan di Tahun Yubileum 2025 sejatinya adalah inisiatif indah yang bertujuan memperdalam iman umat Katolik. Dengan melewati Pintu Suci di gereja-gereja yang ditentukan dan mencatatnya dalam sebuah paspor rohani, umat diundang untuk berziarah secara lahir dan batin, merefleksikan pertobatan, dan mengalami belas kasih Allah. Namun, niat mulia ini nampaknya terdistorsi…