Baptisan VIP

Baptisan VIP
Pagi ini cerah. Terlalu cerah untuk kegundahan yang tiba-tiba muncul di dada Ardi. Setelah meneguk kopi hitam tanpa gula di Depan Gereja—ritual kecil yang selalu ia nikmati sebelum larut dalam urusan pelayanan—ia melangkah ke area gereja. Agenda hari ini jelas: menarik kabel multimedia untuk kebutuhan Natal. Pekerjaan teknis, melelahkan, tapi baginya bermakna. Natal harus dipersiapkan, dan pelayanan memang jarang memberi ruang untuk banyak bertanya.

Namun pagi ini rencana itu berhenti di depan pintu gereja.

“Sedang ada baptisan terbatas,” kata seseorang singkat.

Agenda yang sudah disusun rapi mendadak tak berlaku. Ardi mundur pelan, lalu naik ke balkon luar gereja. Ia duduk, mengudut, menyalakan rokok. Bukan karena ingin melawan, tapi karena pikirannya butuh jeda. Dari tempat itu, ia melihat gereja—rumah rohani yang selama ini ia bela—dengan jarak yang aneh: dekat secara fisik, jauh secara batin.

Tak lama kemudian Pak Hasan datang. Koster gereja yang rambutnya mulai memutih itu ikut duduk. Ia sedikit ngedumel. Bukan soal baptisnya, tapi soal agenda dadakan yang membuat aktivitas bersih-bersih terhenti. Lantai belum selesai dipel, bangku belum ditata. Hal-hal kecil, tapi bagi Pak Hasan itu bagian dari tanggung jawabnya. Gereja, baginya, juga soal keteraturan.

Ardi mengangguk pelan. Tapi kegundahannya bukan di situ.

Ia teringat masa katekumenatnya sendiri. Panjang. Melelahkan. Penuh proses. Ada kelas, ada pendampingan, ada pergulatan iman yang kadang membuatnya ingin menyerah. Ia tidak sekadar belajar doktrin, tapi perlahan dibongkar dan dibentuk. Baptisan, waktu itu, terasa seperti garis akhir dari sebuah ziarah yang serius—bukan sekadar upacara, melainkan pengakuan bahwa ia telah berjalan cukup jauh untuk berani mengikatkan diri.

Lalu ia membandingkan dengan hari ini.

Entah sejak kapan, masa katekumenat terasa bisa dipadatkan. Beberapa kali pertemuan. Proses yang dipangkas. Alasan selalu terdengar masuk akal: kebutuhan pastoral, situasi khusus, urgensi tertentu. Tapi ketika “situasi khusus” menjadi kebiasaan, Ardi mulai bertanya dalam hati—apakah ini masih pengecualian, atau sudah menjadi jalur VIP menuju sakramen?

Sebegitu pentingkah baptisan baru bagi gereja Katolik, sampai prosesnya harus dipercepat sedemikian rupa? Atau justru baptisan sedang direduksi menjadi angka, menjadi laporan statistik, menjadi bukti bahwa Gereja “masih hidup” karena masih ada yang dibaptis?

Mas Yahya, katekis muda yang sempat mampir ke balkon, mengungkapkan kegelisahan yang sama. Ia menyebutnya dengan lebih terang: bypass masa katekumenat. Akibatnya terasa nyata. Pembaptisan terjadwal—yang dulu sakral dan meriah, seperti Malam Paskah—kini terasa sepi. Tidak lagi menjadi puncak perjalanan iman, tapi sekadar salah satu agenda di antara banyak agenda.

Di titik ini, ironi pun terjadi: gereja berbicara tentang pendalaman iman, tetapi mempersingkat prosesnya. Gereja menekankan pentingnya pembinaan, tetapi membuka jalan cepat bagi sebagian orang. Gereja mengajarkan bahwa sakramen bukan formalitas, namun praktiknya kadang terasa seperti administrasi yang bisa dinegosiasikan.

Ingatan itu menyeret Ardi pada pengalaman lain yang tak kalah mengusik. Ia teringat bagaimana beberapa waktu lalu ia pernah bersuara keras—bahkan memprotes—praktik baptisan bayi secara “khusus” di rumah. Baginya, gereja sudah menyediakan jadwal tetap, ruang publik yang sakramental. Mengapa harus ada jalur istimewa?

Protes itu tidak berhenti di kata-kata. Ada ego yang ikut bicara. Ada sikap idealis yang kaku. Ardi memilih tidak membaptiskan anak bungsunya sejak bayi. Ia meyakinkan diri bahwa itu sikap iman, sikap kritis. Namun waktu berjalan, dan keputusan itu justru menjadi pergolakan imannya sendiri.

Ia mulai bertanya dengan jujur, bukan lagi kepada Gereja, tetapi kepada dirinya: apakah penundaannya lahir dari kesadaran iman, atau dari luka karena melihat ketidakadilan pastoral? Apakah ia sedang membela makna sakramen, atau sedang menghukum Gereja—dan tanpa sadar, menyeret anaknya ke dalam konflik batinnya sendiri?

Ardi tidak sedang menolak baptisan. Ia juga tidak anti terhadap orang-orang yang sungguh membutuhkan kelonggaran. Tapi ia resah ketika kelonggaran menjadi standar baru. Ketika keadilan pastoral berubah menjadi privilese. Ketika sakramen—yang seharusnya mendidik kesabaran—malah menyesuaikan diri dengan budaya serba instan.

Di balkon itu, dengan asap rokok yang perlahan menghilang, Ardi menyadari satu hal yang pahit: mungkin yang sedang diuji bukan iman para calon baptis, melainkan konsistensi Gereja sendiri—dan juga ketulusan batinnya sendiri. Apakah Gereja masih berani mengatakan bahwa iman butuh waktu? Dan apakah ia sendiri berani mengakui bahwa idealismenya pernah melampaui kasih?

Pagi tetap cerah. Natal tetap akan datang. Kabel multimedia mungkin baru bisa ditarik nanti. Tapi pertanyaan itu tidak ikut ditunda. Ia menetap di kepala Ardi, seperti gema yang enggan pergi:

Jika pintu sakramen bisa dibuka lewat jalur VIP, apa yang sebenarnya sedang kita lindungi—iman, atau takut kita kehilangan umat?

20/12 – Balkon luar gereja