Berdoa Rosario setiap hari, rasa-rasanya bukan lagi sekadar kewajiban rohani. Lama-lama aku melihatnya sebagai ruang kecil yang kutemukan di tengah-tengah hari yang kelewat berisik. Rasanya seperti menarik napas panjang setelah terlalu lama menahan beban yang tak kentara.

Saat jari menyentuh setiap butir, pikiranku biasanya masih penuh—tentang pekerjaan, orang-orang, hal-hal yang mengganggu. Tapi perlahan, ritme doa membuat semuanya mereda. Ada ketenangan yang datang tanpa aku paksa. Bukan euforia, bukan mujizat besar. Hanya hening yang lembut, tapi nyata. Dan jujur saja, itu sudah lebih dari cukup bagiku.

Ketenangan itu membuatku sadar bahwa aku tidak harus selalu mendapat jawaban instan. Aku tidak selalu perlu melihat tanda atau perubahan besar. Yang kubutuhkan ternyata hanyalah hati yang kembali tertata. Doa Rosario menuntunku ke sana: membantu merapikan kekacauan batin, menenangkan amarah, dan membuka ruang bagi harapan baru.

Kadang aku berpikir, mungkin inilah cara Tuhan bekerja dalam hidupku—pelan, tidak mencolok, tapi konsisten. Melalui doa yang sederhana dan pengulangan yang sama setiap hari, Ia menurunkan badai di dalam diriku.

Jadi ketika aku berkata bahwa “ketenangan itu sudah lebih dari cukup,” itu bukan kalimat kosong. Itu pengalaman yang kurasakan sendiri. Karena dari ketenangan itu, aku bisa melihat lebih jernih, menerima lebih lapang, dan melangkah lebih mantap.

Setiap hari Rosario boleh jadi sederhana, tapi bagiku, justru di situlah kekuatannya.

8/12, 21:14 – Gua Maria Katedral