Ardi tidak pernah membayangkan bahwa salah satu pergulatan imannya justru lahir dari hal-hal yang kelihatannya sepele di dalam gereja. Bukan soal dogma. Bukan soal iman yang goyah. Melainkan soal keputusan-keputusan kecil yang, jika dikumpulkan, terasa seperti pesan diam-diam: umat ada, tapi tidak selalu dianggap penting.
Semuanya bermula dari sebuah sumbangan barang. Niat pemberinya tulus, dan Ardi tidak pernah meragukan itu. Memberi memang selalu layak dihargai. Namun ketika muncul kehendak agar barang itu harus dipasang di tempat yang paling terlihat—dengan alasan penghargaan—Ardi mulai terusik. Ia mencoba menilai secara jujur: dari sisi fungsi, estetika, tata ruang, barang itu tidak cocok dipasang di ruang terbuka. Tidak menyatu. Tidak membantu. Bahkan cenderung mengganggu.
Tapi logika seperti itu ternyata kalah oleh logika lain: rasa sungkan. Seolah gereja lebih takut dianggap tidak tahu berterima kasih daripada takut membuat keputusan yang keliru. Penghargaan kepada pemberi berubah menjadi kewajiban memajang, apa pun risikonya. Ardi bertanya dalam diam: sejak kapan gereja menata ruang berdasarkan rasa tidak enak hati, bukan kebijaksanaan?
Lebih ironis lagi, rencana pemasangan barang itu tidak melibatkan umat yang sebenarnya punya kemampuan. Di dalam komunitas sendiri ada orang-orang yang bergerak di bidang jasa tersebut. Ada yang hidup dari keahlian itu. Ada yang selama ini setia melayani, hadir dalam kegiatan, menyumbang tenaga tanpa banyak bicara. Tapi ketika kesempatan konkret muncul, yang dipilih justru pihak luar.
Ardi mencoba memahami. Mungkin demi profesionalitas, katanya. Tapi benarkah umat sendiri selalu dianggap kurang profesional hanya karena mereka “orang dalam”? Atau justru karena mereka orang dalam, maka mereka dianggap bisa diminta mengerti, diminta maklum, diminta mengalah?
Ardi tidak diam. Ia berbicara. Ia berceloteh—mungkin terlalu jujur, mungkin terlalu terus terang. Ia menyampaikan bahwa hal itu terasa tidak adil, bahwa gereja seharusnya menjadi ruang pertama yang mempercayai umatnya sendiri. Tapi suara itu seperti jatuh ke ruang hampa. Didengar, iya. Dipertimbangkan? Tidak pernah benar-benar terlihat.
Dan di situlah rasa gerah berubah menjadi luka kecil yang terus mengganjal.
Ardi mulai melihat pola: umat diminta berpartisipasi, tapi partisipasi sering kali hanya berhenti pada konsumsi acara dan pengisian bangku. Ketika menyangkut kepercayaan, kesempatan, atau berkat yang konkret, arah pandang gereja justru mengarah keluar. Seolah yang di luar selalu lebih aman, lebih netral, lebih bisa diandalkan—sementara yang di dalam cukup diberi peran sebagai penonton setia.
Puncaknya, Ardi sampai pada pikiran yang pahit, hampir sinis: mungkin berkat Natal memang bukan untuk umat sendiri. Natal dirayakan dengan kebersamaan, kasih, dan inkarnasi—Allah yang hadir di tengah umat-Nya. Tapi dalam praktik kecil sehari-hari, umat justru sering merasa tidak diinkarnasikan dalam banyak keputusan.
Gereja mengajarkan tentang tubuh Kristus, tentang setiap anggota yang penting. Namun Ardi merasakan ada anggota tubuh yang hanya dianggap sebagai pelengkap, bukan bagian yang sungguh dipercaya. Diminta setia, diminta mendukung, diminta tidak ribut—tapi jarang diminta untuk benar-benar dilibatkan secara bermakna.
Pada akhirnya, Ardi dihadapkan pada pilihan batin yang berat: terus melawan dan mengeras, atau belajar berdamai tanpa harus membohongi hati sendiri.
Berdamai di sini bukan berarti membenarkan keputusan yang ia anggap keliru. Berdamai adalah menerima kenyataan bahwa gereja, sebagai institusi yang diisi manusia, juga membawa kelemahan manusia: rasa sungkan, ketakutan, kepentingan, dan kebiasaan memilih jalan aman. Berdamai adalah mengakui bahwa idealisme tidak selalu menang, bahkan di tempat yang mengajarkan nilai-nilai luhur.
Ardi memilih berdamai demi menjaga imannya tetap hidup. Ia tidak ingin amarahnya kepada sistem membuatnya kehilangan makna Gereja itu sendiri. Ia belajar menurunkan ekspektasi, bukan terhadap Tuhan, tetapi terhadap manusia yang menjalankan gereja.
Namun perdamaian ini bukan perdamaian yang manis. Ini perdamaian yang getir. Perdamaian yang disertai kesadaran pahit bahwa menjadi umat sering kali berarti belajar mengalah, belajar dikesampingkan, dan belajar tetap setia meski tidak selalu dipilih.
Ardi tetap tinggal di gereja. Bukan karena semua keputusan sudah benar, tapi karena ia menolak membiarkan kekecewaan mengubahnya menjadi orang yang sinis dan pahit. Ia memilih menjaga hatinya, sambil terus berharap—pelan-pelan, mungkin terlalu pelan—bahwa suatu hari gereja juga mau bercermin dan bertanya dengan jujur: apakah kita sudah sungguh menjadi rumah bagi umat sendiri, atau hanya tempat di mana umat belajar menahan diri?
Dan di sanalah Ardi akhirnya memahami makna terdalam dari berdamai dengan keadaan yang tidak berpihak: bukan menyerah, melainkan bertahan tanpa kehilangan nurani.
16/12, 14:05 – Gua Maria Katedral
