Awas!! Ngebut Benjut!

Tertera 23:35 PM, sewaktu kulihat jam di blackberry karena terbangun tiba-tiba dengan perasaan dongkol dan emosi yang meledak-ledak. 1,5 jam sebelumnya, saya sudah  dengan manisnya merenggangkan tulang belakang di kasur, menunggu mata terkatup sembari mendengarkan live streaming Rakosa 105.3 fm Jogja yang memutar tembang-tembang slow.

Anak-anak “setan” itu memaksaku untuk beranjak dari kasur, keluar dari kamar, dan turun ke lantai bawah. Di luar rumah,  sekumpulan ABG (Anak Baru Gede) labil lagi gila-gilaan memacu gas motornya yang terpasang knalpot racing menyusuri  kawasan letter T jalan Ayani-Merdeka.

Fenomena yang sebenarnya sudah lama terjadi di Ketapang, terutama di kawasan “Pasar Lama” (sebutan untuk kawasan pertokoan di Jalan Merdeka – A.yani), pengguna jalan harus ektra hati-hati ketika melintas di kawasan ini. Sekumpulan ABABIL (ABG LABIL) dengan seenaknya memacu motornya di sore hari ataupun malam hari sewaktu toko-toko mulai bertutupan.

Tidak banyak yang bisa kulakukan selain meminta (dengan baik-baik) mereka yang markir motor di depan rumah untuk segera beranjak dari tempat, pindah ke tempat lain.

Continue reading Awas!! Ngebut Benjut!

Asal – Muasal Rebung dijadikan bahan masakan

Rebung Pagi ini, dikarenakan hujan yang mengguyur Ketapang dengan begitu derasnya tanpa henti,  memaksa saya untuk berlama-lama menatap laman facebook. Scrolling demi scrolling di mouse, saya tergelitik dengan status teman yang sepintas lewat terbaca di news feed, kira-kira begini :

 

Rebong mengandung fosfor..
Jd mun mok pintar mkn rebong..
Tp kt dosen ku, org cina yg pertama memanfaatkan rebong sbgai sayur.
Ku rase t org Dayak. Continue reading Asal – Muasal Rebung dijadikan bahan masakan

Finding the Good Taste Foods to be Enjoyed

Enjoying the great foods with the various choices is something fun for all people. We can enjoy any kinds of delicious foods. However, in getting the satisfying in our culinary, we need to get the proper recommendation to find the delicious foods and dishes. We can get the Boston restaurants to find the recommended Boston restaurant for getting the amazing and delicious menus that we want to enjoy. It will be really helpful to search for the reviews in the recommended restaurants that we want. We can get it by entering the Boston restaurant guide keyword at FoodieBites.com.

There, we can find so many kinds of guidance in finding any kinds of well recommended restaurants anywhere. We can find any kinds of reviews for any kinds of dish there. We can find the reviews and we can get the best one. We can enter the Chinese restaurants Boston keyword to find the recommended Chinese restaurants in Boston. It will be really great for us.

There, we can find the great number of reviews for so many kinds of restaurants and dishes. It will be something great for the people who look for the new place to find the favorite food but in the satisfying taste. We also can find the recommended Mexican Restaurant there.

 

Festival Hantu ( Chit Gwee Pua )

Hari ini, tanggal 15 bulan 7 berdasarkan penanggalan Tionghoa adalah bertepatan dengan  hari di mana Festival Hantu Lapar dirayakan, sebuah tradisi perayaan dalam kebudayaan Tionghoa.

Bulan  7 dalam penanggalan Tionghoa lebih dikenal dengan istilah Bulan hantu. Ada sebuah kepercayaan di mana dalam kurun waktu 1 bulan ini, hantu-hantu yang mendiami alam baka sana  bebas berjalan-jalan bertamasya ke alam manusia karena Pintu Gerbang  Neraka dibuka bebas dalam bulan ini.  Selama bulan 7 , warga Tionghoa juga jarang sekali  mengadakan pesta-pesta seperti perkawinan ataupun pindah rumah karena dipercaya peristiwa-peristiwa baik dan menggembirakan yang dilaksanakan di bulan “hantu”  akan mendatangkan kesialan.

Tradisi ini sebenarnya merupakan produk masyarakat agraris di zaman dahulu yang bermula dari penghormatan kepada leluhur serta dewa-dewa supaya panen yang biasanya jatuh di musim gugur dapat terberkati dan berlimpah. Namun pengaruh religius terutama dari Buddhisme menjadikan tradisi perayaan ini sarat dengan mitologi tentang hantu-hantu kelaparan yang perlu dijamu pada masa kehadiran mereka di dunia manusia  – wikipedia –

Puncaknya adalah di tanggal 15.  Di beberapa negara lain, Festival Hantu Lapar sering dirayakan besar-besaran dan menjadi bagian dari “menu” pariwisata yang layak untuk dicicipi wisatawan.

Jika di kota-kota lain, di bulan yang sama ini mungkin masih bisa dijumpai perayaan umat KongHuCu  di kelenteng yang namanya “Sembahyang Rebutan“. Kalau yang pernah tinggal di Jogja mestinya pernah dengar istilah Grebeg Maulud, nah Sembahyang Rebutanini ya mirip-mirip 11-12 lah.  Jadi warga Tionghoa, akan membawa persembahan-persembahan ke kelenteng yang dikumpulkan jadi satu, disusun “mbukit” dan setelah prosesi doa, persembahan-persembahan itu akan direbut oleh umat yang hadir, dan dipercaya makanan itu akan membawa berkah bagi yang mengkonsumsinya.

Lalu bagaimana dengan di Ketapang, Kalimantan Barat ? Sebagai daerah dengan populasi warga TioCiu yang cukup besar di Indonesia, perayaan seperti ini malah  belum pernah ada. Alih-alih menjadi festival,  yang ada malah kesan mistis yang kental 🙂

Sejak kecil, istilah Chit Gwee Pua mestinya sudah terbiasa didengar oleh anak-anak Tionghoa Ketapang . Chit Gwee Pua ( bahasa Tio Ciu) artinya pertengahan bulan tujuh. Di hari ini, orang tua selalu memberlakukan beberapa larangan untuk anak-anak seperti misalnya mandi dan makan tidak boleh lewat dari jam 6 malam, juga tidak boleh berkeliaran  sampai jauh malam. Ya tentu saja dengan alasan nanti makanannya akan dimakan hantu-hantu kelaparan dan sebagainya 😀

Kemudian yang menjadi kebiasaan warga Tionghoa sini juga adalah adanya “persembahan” untuk hantu-hantu itu. Dari jam 6 sore, di depan rumah warga Tionghoa KongHucu biasanya sudah tampak beberapa sesajian, termasuk lilin, hio dan uang kertas.  Pemandangan yang semakin menambah kentalnya nuansa mistis di jalanan 😀

Akong & Ama juga dulu sering bercerita perihal Chit Gwee Pua ini. Konon, di Tiongkok dulu ada kisah tentang bagaimana melihat Hantu-hantu yang kelaparan ini di hari Chit Gwee Pua. Tidak banyak yang perlu disiapkan, selain menyiapkan penampi beras dan keberanian.  Jadi, Anda harus memiliki penampi beras yang terbuat dari anyaman bambu / rotan (bukan yg plastik). Taruhlah penampi itu di atas kepala dan jongkoklah di bawah jembatan, dan saksikanlah Hantu-hantu itu lewat di depan anda. Konon katanya,  harus dilihat sampai hilang semua, kalau tidak Anda akan dikejar mereka.

Boleh percaya boleh tidak, kalau Anda tertarik silahkan praktekkan malam ini. Nanti kabari saya hasilnya seperti apa. Kalau saya sih lebih memilih motret bulan purnama aja malam ini siapa tahu kelihatan Bidadari lagi nari di bulan . ^_^

Selamat ber – Chit Gwee Pua ! 🙂

**gambar diambil dari
http://www.yoursingapore.com/content/dam/yoursingapore/event/en/372_hungrygf_505x337_3_2.jpg

Mas Berto namanya

Mas Berto, bukanlah seorang mas bernama Berto.Ia bukanlah seorang Jawa. Mas Berto, mengutip istilahnya Erik Raferna adalah kependekan dari Masyarakat Bertato. Mas Berto, kumpulan manusia : anda,saya, dia, ataupun mereka yang memiliki kepuasan ketika bagian-bagian tubuhnya ini dirajah.

Ya…rajah tubuh atau tattoo, bagi sebagian besar orang dengan gaya pikir yang konservatif, menganggap tatto atau seni “menggambari” tubuh ini adalah suatu aktivitas yang sangat dekat hubungannya dengan pelaku tindak kriminal. Manusia bertato, identik dengan preman terminal x_x. Pandangan orang-orang tidak akan lepas dari “tubuh” anda ketika menangkap sesuatu yg terpatri di kulit lengan, atau di leher, atau di manapun juga di bagian tubuh anda yang terlihat.

Bagi saya pribadi, tattoo adalah sebuah bentuk penegasan akan komitmen diri, juga penegasan akan pengambilan keputusan yang tepat untuk seumur hidup.

Pertama kali saya mengenal tattoo sewaktu kelas 2 SMA, kurang lebih 13 tahun yang lalu. Darah ABG yang mengalir, sejalan dengan jiwa muda yang menuntut kebebasan dalam berekspresi, mengantar saya pada sebuah pilihan untuk mentattoo lengan kiri dengan gambar “praying hand” dengan tulisan “matius 6:14” tentang pertobatan di bawahnya. Karena keterbatasan resource : gambar dan tattoo artist wktu itu, maka tattoo dibikin dalam segala keterbatasan. Antonius Indra wktu itu yang menjadi tattoo artistku,sekaligus perancang mesin tattoonya. Bermodalkan mesin dinamo mainan mobil tamiya-ku dan jarum jahit mama, jadilah sebuah mesin tattoo yang siap dipakai untuk merajah lengan ini. Maka jadilah “praying hand” yang menemaniku selama 13 tahun terakhiri ini.

Tattoo yang sangat sederhana,bahkan kalau dilihat orang, lebih banyak digunjing ketimbang dipuji qe2 :d Namun demikian, tidak mengurangi kepedean saya untuk berkaos singlet dalam keseharian. Tidak bermaksud untuk mempertontonkan tattoo tersebut sebenarnya,tapi lebih kepada kenyamanan berpakaian saja. Jadi, tidak heran lagi kan kenapa saya selalu berkaos singlet bahkan ketika harus beraktivitas di lingkungan gereja (lat koor dsb) saya terbiasa bersinglet ria 🙂 .

Nah, keberadaan tattoo selama 13 tahun ini, pada akhirnya harus diakhiri hari minggu yang lalu (01/05/2011). Bukan dibuang, tapi digantikan oleh  tattoo yang baru. Temanya masih sama, tetap “pertobatan” dan gambarnya “praying hand” juga, bedanya hanya pada bentuk gambarnya. Googling panjang banyak memberikan pilihan gambar, tapi akhirnya saya jatuh hati pada desain yg dijual di tattoojohnny.com. Kadung jatuh hati, lalu desainnya pun saya order.

Anes tattoo, abang dan kawan di komunitas Pedahasan Tikar Selembar yang menjadi tattoo artistku. Hujan deras yang mengguyur kota Ketapang sepanjang malam itu, menemeni kami bertattoo ria hingga jam 1 dini hari.

Hari ini, dalam kondisi luka tattoo yang belum mengering, saya berani memastikan kalau tattoo inilah yg akan menemani lengan kiriku sampai akhir nanti, sembari mencari ide gambar untuk dirajah di bagian tubuh yang lain. Salam Budaya!

Apresiasi Pengrajin Rotan

Sabtu, 15 Januari 2011 , 07:34:00
KETAPANG – Sampai hari ini, pameran fotografi masih berlangsung di Gedung Bina Utama Payak Kumang, Kecamatan Delta Pawan. Pameran fotografi perdana di Ketapang tersebut, dibuka oleh Bupati Ketapang Henrikus didampingi Kepala Dinas Budparpora Ketapang Yudo Sudarto, dan Wakil Ketua DPRD Ketapang Budi Mateus, Kamis (13/1) malam. 

Henrikus mengaku sangat menyambut baik diselenggarakannya pameran fotografi yang menampilkan potret tradisional kerajinan rotan. Kegiatan  yang diselenggarakan oleh Komunitas Pedahasan Tikar Selembar tersebut merupakan apresiasi dan kreasi dalam bidang kesenian dan kebudayaan, khususnya dalam lingkup dan konteks daerah Kabupaten Ketapang. 

“Melalui pameran ini, kita memperkenalkan  dan menginformasikan  potret tentang hasil-hasil kerajinan rotan sebagai salah satu potensi seni dan budaya lokal Kabupaten Ketapang, di tengah wacana global tentang upaya penyelamatan lingkungan dan pembangunan berkelanjutan,” kata Bupati. Bupati menilai pilihan masyarakat pengrajin rotan, untuk terus mempertahankan tradisinya sebagai sumber penghasilan rumah tangga, patut dihargai dan didukung.

“Melalui pameran ini, diharapkan masing-masing kita dapat melakukan repleksi dan koreksi atas apa yang telah kita perbuat selama ini, baik individu, lembaga, swasta, maupun pemerintah,” ungkap mantan Wakil Bupati Ketapang ini. Setelah membuka pameran dengan memukul gong, Bupati didampingi Kepala Dinas Budparpora dan Wakil Ketua DPRD melihat hasil karya fotografi.

Selain potret kerajinan, pameran itu juga memperlihatkan bentuk asli dari hasil kerajinan. Sejumlah hasil kerajinan rotan tersebut, juga sempat mengingatkan Bupati dengan kenangan masa lalunya. Bahkan Bupati juga memesan beberpa hasil karya fotografi tersebut untuk menjadi koleksinya. Secara terpisah, Al Yan Sukanda, penasehat Komunitas Pedahasan Tikar Selembar  menuturkan bahwa kegiatan pameran ini sebagai sebuah karya seni.

Hasil karya fotografi ini, dikatakan dia, menggambarkan  bagaimana aktivitas yang dilaksanakan masyarakat di pedalaman Kabupaten Ketapang. Selain pameran 68 foto yang dibingkai tersebut, Komunitas Pedahasan Tikar Selembar juga melakukan diskusi tentang fotografi pada, Jum’at (14/1) sore. “Kegiatan dilakukan sore dan malam, sampai besok (hari ini, Red),” kata Yan. (ndi)

 

Melihat Rotan dalam Bingkai Potret (3-selesai) – Fotografer Bangga Bisa Pamerkan Karya

Kerajinan rotan.

Laporan Wartawan Tribun Pontianak, M Arief

FOTOGRAFER komunitas Pedahasan Tikar Selembar bangga karya-karyanya bisa dipamerkan di ajang pameran fotografi dengan tema Potret Tradisional Kerajinan Rotan, di Gedung Bina Utama, 13-15 Januari lalu.
Foto yang dipajang merupakan karya dua anggota, yakni Frans Doni (28) dan Erik Sulidra (25). Kedua fotografer putra lokal ini fokus membidik momen-momen yang menceritakan seni dan budaya daerahnya.
Menurut Erik, ada kebanggaan tersendiri ketika mampu menyajikan foto dengan objek seni dan budaya daerah asalnya.
“Adat dan tradisi daerah itu sangat unik, karena di daerah lain tidak bakal ada,” tuturnya kepada Tribun, Sabtu (15/1/11) malam.
Bandingkan dengan karya foto-foto model yang disebut Erik sebagai foto salon. Karya jenis ini terdapat di negara manapun.
“Kita pergi ke daerah atau negara manapun, foto-foto salon itu sangat mudah ditemukan,” jelas Erik.
Pameran fotografi yang diselenggarakan Pedahasan Tikar Selembar itu merupakan yang pertama di Ketapang. Itu juga yang menjadi kebanggaan bagi Erik.
“Kami punya tekad menggelorakan fotografi di daerah ini, khususnya di kalangan muda,” tekadnya.
Ketua panitia pameran, Rizki menuturkan, target pengunjung yang semula dipatok 100 orang, ternyata mencapai 177 saat hari penutupan. Selama pameran berlangsung, belasan foto akhirnya dibeli oleh pengunjung. Hasil kerajinan rotan yang ikut dipajang, separuhnya juga habis terjual.
“Peminat gelang rotan yang paling banyak, kami sampai kehabisan persediaan,” ujar Rizki.
Kurator pameran, Iwan Jola mengatakan, ada beberapa hal yang menjadi catatan dari penyelenggaraan pameran itu.
“Komposisi karyanya sudah bagus, hanya saja tehnik displaynya yang perlu diperbaiki,” ungkap fotografer kelahiran Kalbar yang berdomisili di Yogyakrata ini.
Dia mencontohkan, pada setiap foto yang di-display, ditampilkan tulisan dari pihak sponsor. Padahal itu tidak boleh terjadi dalam sebuah pameran fotografi.
“Gedung serta pencahayaannya, juga kurang memenuhi syarat,” kata Iwan.
Namun sebagai pemula, apa yang dilakukan Pedahasan Tikar Selembar, menurut Iwan perlu mendapat apresiasi. Tak hanya itu, iven tersebut berhasil sebagai sentilan bagi pemerintah daerah.
“Anak-anak mudanya mampu berkarya, tapi pemerintah tidak mampu memfasilitasinya dengan layak,” ujarnya. (*)

http://pontianak.tribunnews.com/read/artikel/19008

 

Melihat Rotan dalam Bingkai Potret (2) – Bupati Henrikus Merasa Diingatkan

Bupati mengamati aneka perabot dari rotan.

Laporan Wartawan Tribun Pontianak, M Arief

BERUNTUNG Bupati Ketapang, Henrikus menyempatkan diri membuka pameran fotografi di Gedung Bina Utama, Kamis (13/1) malam. Sebab, diakuinya, kegiatan itu telah mengingatkannya untuk turut melestarikan kerajinan rotan.
Usai membuka pameran, Henrikus bersama pejabat-pejabat yang mendampinginya melihat satu persatu karya yang dipamerkan. Di pandangnya foto dan hasil kerajinan rotan itu dari dekat. Spontan, tangannya juga memegang karya tersebut sebagai tanda ketertarikannya.
“Ini punya saya,” ujar Henrikus ketika menjumpai foto ataupun kerajinan rotan yang ingin dibelinya.
Ada sembilan frame foto dan belasan hasil kerajinan rotan yang dibelinya. Tapi barang-barang itu tidak langsung dibawa, karena akan dipamerkan dulu hingga Sabtu ini.
Beberapa pejabat tidak mau ketinggalan. Wakil Ketua DPRD Budi Matheus, Kadisbudparpora Yudo Sudharto, dan beberapa pejabat lain juga membeli karya yang dipamerkan.
Henrikus mengatakan, foto-foto dan hasil kerajinan yang dibelinya itu akan menjadi bagian dari kehidupannya.
“Foto-foto itu akan mengingatkan, sayapunya tanggungjawab melestarikan kesenian tradisional ini,” tuturnya.
Foto-foto tersebut merupakan potret realita kerajinan rotan, maupun aktivitas warga pengrajinnya. Sebagai putra Ketapang, Henrikus mengaku bangga dengan kekayaan seni budaya, khususnya kerajinan rotan tersebut.
Saat seremoni pembukaan, panitia menampilkan aksi teatrikal yang tujuannya mengajak melestarikan hutan. Ini bentuk kekhawatiran mereka akan keberlangsungan hutan, yang ditampilkan melalui gerak dan iringan musik tradisional.
Rotan sebagai bahan baku kerajinan bagi warga Dusun Sempadian, bersumber dari hutan. Jika hutan habis dibabat, otomatis kelestarian kerajinan rotan terancam punah. Pesan itu ingin disampaikan Pedahasan Tikar Selembar melalui aksinya.
“Itu menjadi bahan refleksi kita bersama. Aksi teatrikal itu cerminan keinginan masyarakat yang peduli akan kelestarian hutan,” katanya.
Maka Henrikus berharap masyarakat juga mendukung pemerintah, dengan cara tidak melakukan penebangan hutan atau penambangan secara ilegal. (bersambung)

http://pontianak.tribunnews.com/read/artikel/18950

Melihat Rotan dalam Bingkai Potret (1) – Kami Khawatir Kerajinan Itu Akan Punah

Bupati Ketapang Henrikus (kanan) meninjau pameran fotografi, Kamis malam.Laporan Wartawan Tribun Pontianak, M Arief

PERLU upaya untuk terus melestarikan kesenian dan kebudayaan tradisional. Karena jika tidak, bisa jadi anak cucu kita hanya mendengarnya sebagai sebuah dongeng.
Semangat itulah yang coba digelorakan oleh Komunitas Seni dan Budaya “Pedahasan Tikar Selembar”, ketika menggelar Pameran Fotografi yang bertempat di Gedung Bina Utama, Jalan Gatot Subroto, Ketapang, Kalimantan Barat, pada 13-15 Januari 2011.
Pedahasan Tikar Selembar merupakan komunitas yang concern pada seni dan budaya daerah, khususnya di Ketapang. Komunitas ini terdiri dari sekitar 40 warga Ketapang, yang mayoritas merupakan alumni kampus-kampus di Yogyakarta.
Pameran fotografi itu mengangkat tema Potret Tradisional Kerajinan Rotan. Ada 68 foto yang dibingkai dalam 25 frame ditampilkan dalam pameran tersebut. Sebagian dari foto-foto itu memang menggambarkan aktivitas pengrajin-pengrajin rotan di sebuah dusun di pedalaman.
Seksi publikasi panitia pameran, Frans Doni mengatakan, kerajinan rotan yang menjadi inspirasi pameran, tepatnya berada di Dusun Sempadian, Desa Terusan, Kecamatan Manis Mata.
“Semua kepala keluarga yang ada di dusun itu bekerja sebagai pengrajin rotan,” ungkap Doni.
Hasil kerajinan rotan itu bermacam-macam bentuknya, seperti tikar lampit, tudung saji, hingga gelang. Sayangnya, hasil kerajinan dari Sempadian justru tidak dipasarkan di Kota Ketapang.
Karena sulitnya transportasi ke Kota Ketapang, maka warga Sempadian lebih memilih untuk memasarkan hasil kerajinannya ke Kalimantan Tengah.
Melalui pameran fotografi yang diselenggarakan komunitasnya, Doni berharap semua pihak menaruh perhatian terhadap kerajinan rotan Sempadian.
“Kami khawatir kerajinan itu akan punah. Sengaja kami angkat supaya banyak pihak yang mengenalnya,” tutur Doni.
Selain mengenalkan kerajinan rotan Sempadian, pameran juga dimaksudkan untuk memasyarakatkan fotografi bagi warga Ketapang.
“Ini merupakan pameran fotografi pertama di Ketapang. Fotografi sebagai sebuah seni, kami harap bisa semakin berkembang di daerah ini,” katanya.
Pameran fotografi di Gedung Bina Utama itu dibuka oleh Bupati Ketapang, Henrikus, Kamis (13/1) malam. Selama dua hari berikutnya, pameran akan berlangsung mulai pukul 15.00-21-30 WIB. Jadwal pada Jumat ini akan digelar workshop fotografi sebagai rangkaian pameran tersebut.
Bagi pengunjung yang berminat, foto-foto yang dipajang pada pameran tersebut juga dapat dibeli.
“Tapi tujuan kami bukan untuk komersil. Fokus kami tetap pada seni. Kalau pun ada yang membeli, uangnya akan digunakan untuk membiayai kegiatan Pedahasan,” jelas Doni. (bersambung)

http://pontianak.tribunnews.com/read/artikel/18924