Ada orang yang masuk ke dunia Komsos karena hobi fotografi. Ada yang senang menulis. Ada pula yang tertarik pada dunia media.

Aku mungkin berbeda.

Aku masuk ke dunia Komsos karena komputer.

Tahun 2002–2003, saat menjalani kerja praktik kuliah, aku mendapat kesempatan membuat website Keuskupan Ketapang. Saat itu internet masih menjadi barang mewah. Belum semua orang memiliki alamat email, apalagi berpikir bahwa sebuah keuskupan perlu hadir di dunia maya.

Aku belum pernah membayangkan bahwa sebuah keputusan kecil untuk membuat website Keuskupan Ketapang akan menjadi awal perjalanan yang terus berlanjut hingga lebih dari dua dekade. Dari sebuah proyek kerja praktik, tanpa kusadari, aku sedang melangkah masuk ke dunia Komunikasi Sosial Gereja—sebuah pelayanan yang kelak membentuk cara pandangku terhadap Gereja, teknologi, bahkan diriku sendiri.

Seingatku, gagasan itu pertama kali datang dari Romo Didik, sekarang Mgr. Didik, Uskup Keuskupan Surabaya, kemudian diteruskan oleh Romo Gas Andri yang berasal dari Keuskupan Surabaya. Website itu kutaruh di kayong.or.id. Mungkin jika dilihat sekarang tampilannya terasa sangat sederhana. Namun pada masa itu, Keuskupan Ketapang termasuk salah satu dari sedikit keuskupan di Indonesia yang telah memikirkan identitas digitalnya. Bahkan, website itu menjadi website pertama yang menggunakan domain lokal di Ketapang.

Melihat ke belakang, aku baru menyadari bahwa yang sedang dibangun saat itu bukan sekadar sebuah website. Yang sedang dibangun adalah cara baru Gereja menjangkau umat.

Semangat yang sama juga terlihat ketika Keuskupan merintis warnet bekerja sama dengan Kepala Kantor Pos. Dari sana kemudian berkembang menjadi ISP Bhakti Utama, penyedia layanan internet pertama di Ketapang. Jauh sebelum masyarakat mengenal Speedy atau internet rumahan dari Telkom, Keuskupan Ketapang telah lebih dahulu menjadi bagian dari sejarah perkembangan teknologi informasi di daerah ini.

Aku bersyukur pernah ikut menjadi bagian kecil dari perjalanan itu.


Tahun 2015, aku kembali melihat sebuah kebutuhan sederhana.

Banyak umat tidak selalu membawa buku Puji Syukur. Kadang lupa, kadang memang tidak sempat.

Aku berpikir, mengapa tidak dibuat saja dalam bentuk aplikasi?

Lalu lahirlah aplikasi Puji Syukur Katolik, agar umat dapat membukanya melalui telepon genggam. Saat ini aplikasi Puji Syukur sudah kuhapus dari Play Store.

Kalau melihat dari perspektif sekarang, mungkin ada banyak hal yang akan kulakukan dengan cara berbeda, terutama terkait hak cipta dan izin penggunaan konten. Tetapi saat itu niatku sederhana: membantu umat berdoa dengan lebih mudah.

Dua tahun kemudian, aku bergabung dengan komunitas developer aplikasi Katolik Indonesia. Kami memiliki kesepakatan tidak tertulis untuk saling melengkapi. Kalau seseorang sudah mengembangkan satu aplikasi, yang lain berusaha membuat aplikasi berbeda agar ekosistem pelayanan digital Gereja semakin kaya.

Aku belajar bahwa pelayanan bukan soal menjadi yang pertama, melainkan menjadi bagian dari sesuatu yang lebih besar.


Lalu datanglah tahun 2020.

Aku rasa semua orang mengingat tahun itu.

Tetapi bagi seorang pewarta Komsos, pandemi meninggalkan luka yang berbeda.

Untuk pertama kalinya dalam hidupku aku melihat Pekan Suci di Katedral Ketapang tanpa umat.

Bangku-bangku gereja kosong.

Tidak ada anak-anak berlarian.

Tidak ada umat yang berebut tempat duduk.

Tidak ada suara koor yang memenuhi ruangan.

Yang ada hanya keheningan.

Aku masih ingat duduk di belakang layar monitor sambil berpikir, “Apakah benar Gereja bisa seperti ini?”

Hari itu aku belajar bahwa Gereja ternyata bukan hanya soal gedung yang penuh. Gereja tetap hidup meski umat hanya bisa mengikuti Misa dari layar telepon genggam.

Di balik layar, perjuangannya tidak sederhana.

Peralatan terbatas.

Operator sedikit.

Jaringan internet sering membuat kami deg-degan.

Semua dikerjakan sambil belajar.

Namun justru dalam keterbatasan itu aku melihat begitu banyak orang yang rela memberikan tenaga tanpa bertanya, “Aku dapat apa?”

Mereka hanya ingin memastikan umat tetap bisa berdoa.

Masih pada tahun yang sama, Komsos Katedral Ketapang dipercaya menjadi host Virtual Youth Day Indonesia.

Lebih dari 13.000 orang mengikuti kegiatan tersebut.

Kalau dipikir sekarang, rasanya hampir tidak masuk akal.

Tim kecil.

Peralatan seadanya.

Tetapi Tuhan sering bekerja melalui orang-orang yang hanya berkata, “Kami akan mencoba.”

Banyak orang melihat acaranya berjalan.

Sedikit yang tahu betapa banyak doa yang dipanjatkan agar jaringan internet tidak putus.


Tahun 2022.

Aku mengambil satu foto yang sampai sekarang masih kusimpan.

Di pintu utama Katedral tergantung sebuah papan bertuliskan:

“Gereja ditutup tidak ada Misa”

Kalimatnya singkat.

Tetapi berat.

Saat menekan tombol kamera, aku sadar sedang merekam sejarah.

Aku berharap foto itu suatu hari nanti hanya menjadi pengingat bahwa Gereja pernah melewati masa yang sangat sulit, dan berhasil melaluinya.


Namun ternyata pergumulan terberatku bukan soal teknologi.

Bukan pula soal pandemi.

Melainkan soal diriku sendiri.

Pekan Suci tahun 2025 menjadi salah satu titik refleksi paling dalam sepanjang aku melayani.

Sebagai pewarta Komsos, aku sudah terbiasa mengorbankan banyak waktu bersama keluarga. Hari-hari raya justru menjadi hari paling sibuk. Di saat orang lain bisa beribadah dengan tenang bersama keluarga, kami justru sibuk memastikan kamera menyala, suara terdengar, jaringan stabil, dan setiap momen dapat terdokumentasi dengan baik.

Ironisnya, pada saat yang sama aku juga sedang mengusahakan baptisan anakku.

Aku ingin semuanya berjalan sesuai prosedur.

Tetapi jadwal pelayanan membuat semuanya hampir mustahil.

Lalu muncul suara kecil dalam hati.

“Bukankah aku sudah banyak melayani?”

“Bukankah sekali saja meminta pengecualian bukan masalah?”

“Bukankah aku layak mendapatkan sedikit kemudahan?”

Hari itu aku berhadapan dengan musuh yang paling sulit dikalahkan.

Ego.

Aku mencoba mencari pembenaran agar prosedur bisa sedikit dilonggarkan. Namun jawabannya adalah tidak.

Saat itu aku kecewa.

Tetapi semakin kupikirkan, justru penolakan itulah yang menyelamatkanku.

Kalau saat itu aku diberi kemudahan hanya karena aku aktif melayani, mungkin aku sedang belajar menjadi orang yang merasa memiliki hak istimewa. Pelayanan tidak pernah boleh menjadi mata uang untuk membeli perlakuan khusus.

Di sisi lain, kegelisahanku tidak berhenti di situ.

Aku juga melihat kenyataan bahwa dalam beberapa situasi, kesan tentang adanya “baptisan VIP” masih muncul. Ada prosedur yang tampak begitu ketat bagi sebagian orang, tetapi terasa lebih lentur bagi yang lain. Kontradiksi itulah yang kemudian mendorongku menulis refleksi Kegalauan Paskah: Antara Pelayanan dan Pelukan Anak dan Baptisan VIP.

Aku tidak menulis untuk menyerang siapa pun.

Aku menulis karena aku mencintai Gereja.

Dan justru karena mencintainya, aku percaya Gereja perlu ruang untuk bercermin. Komsos bukan hanya bertugas mengabarkan kabar baik. Komsos juga harus berani menyampaikan kegelisahan dengan jujur, santun, dan bertanggung jawab, agar Gereja terus bertumbuh.


Selama lebih dari dua puluh tahun, aku belajar satu hal.

Menjadi pewarta Komsos ternyata bukan sekadar mengambil foto yang bagus.

Bukan sekadar membuat video yang menarik.

Bukan pula sekadar membangun website atau aplikasi.

Menjadi pewarta berarti belajar menghilang.

Belajar agar karya lebih berbicara daripada pembuatnya.

Foto terbaik adalah ketika orang melihat peristiwanya, bukan fotografernya.

Video terbaik adalah ketika orang mengalami Tuhan, bukan mengagumi editornya.

Tulisan terbaik adalah ketika orang menemukan harapan, bukan mencari siapa penulisnya.

Dan pelayanan terbaik adalah ketika kita tetap mampu menerima aturan yang sama dengan umat lain, meskipun kita adalah para pekerja di balik layar.

Sebab pelayanan bukanlah jalan untuk memperoleh hak istimewa, melainkan kesempatan untuk belajar semakin kecil.

Karena pada akhirnya, kamera memang menghadap ke altar.

Tetapi Tuhan selalu melihat ke belakang kamera.

Di sanalah karakter seorang pewarta benar-benar diuji.

Catholic Center, 21/07/2026 15:53 WIB
-FD-