Hari ini, porta sancta di gereja Ardi resmi ditutup. Di story WA-nya berseliweran postingan tentang paspor Porta Sancta, semacam penanda perlombaan: siapa paling banyak masuk pintu suci, siapa paling rajin hadir demi cap, siapa paling sibuk mengejar “koleksi rohani” layaknya perangko.

Ironis? Seolah belas kasih Allah bisa diukur dengan jumlah stempel yang terkumpul. Seolah rahmat turun berdasarkan kuantitas, bukan kualitas hati.

Mungkin Tuhan tersenyum, atau justru menggelengmelihat umat-Nya sibuk berziarah kaki, tapi lupa berziarah batin. Karena pintu yang paling sulit dilewati bukan yang dipasang di dinding gereja, melainkan yang tertutup rapat di dalam dada sendiri.

Hari ini porta sancta ditutup. Kalau jujur bertanya dalam hati:
lebih banyak mana: stempel di paspor, atau bekas perubahan yang nyata?

Kalau pintu itu sudah kembali tertutup dan akan dibuka 25 tahun lagi, tapi tidak ada yang berubah dalam cara kita mengasihi, mengampuni, dan berlaku adil… mungkin masalahnya bukan di ‘pintunya’, tapi siapa yang melewatinya.