Malam ini, 3 Januari 2026, pukul 22.51 WIB, RD. Eduardus Banggut berpulang menghadap Bapa di Surga di RS Fatima Ketapang. Kepergiannya datang begitu tiba-tiba, nyaris tak memberi ruang bagi siapa pun untuk bersiap—apalagi untuk benar-benar percaya.
Padahal pagi tadi, beliau masih bersama kami. Di kompleks Gua Maria Katedral, saat saya dan kawan-kawan membongkar rumah Luce, Romo Edu singgah. Duduk santai, ikut bercanda, tertawa ringan, sambil menikmati beberapa potong semangka yang dibawakan Ce Imel.
Tak ada tanda apa pun. Bahkan keluhan pun tidak. Dengan gaya khasnya, beliau sempat melontarkan kalimat yang membuat kami tergelak:
“Katedral ini miskin, karena cuma punya satu buku TPE. Jadi saya harus pindah-pindah dari mimbar pastor ke altar.”

Kalimat sederhana, jenaka, dan—tanpa kami sadari—menjadi salah satu percakapan terakhir.
Malamnya, pukul 21.33 WIB, telepon dari Acek Ali masuk. Saat itu saya, Bagas, dan Ce Imel baru saja bersiap untuk Rosario rutin di Gua Maria. Nada suara di seberang tak lagi santai: Romo Edu terjatuh di kamar mandi, diminta segera merapat ke kamar beliau sambil menunggu Sr. Emy dan ambulans.
Kami bergegas. Di kamar, Romo Edu sudah terbaring di kasur. Wajahnya masih segar, kesadarannya utuh. Beliau mengeluh dada kiri terasa sakit dan napas agak sesak. Tak lama, Bang Ngiuk datang dan menemani beliau, memijat kakinya perlahan—sebuah gestur kecil, namun penuh kepedulian.
Sr. Emy dan ambulans tiba. Tepat pukul 22.00 WIB, Romo Edu dibawa menuju RS Fatima. Kami mengantar sampai ambulans berangkat, lalu kembali ke Pendopo Tan A Hak. Di sana, Erik datang menyusul, membawa tuak. Kami duduk, minum, mencoba menenangkan diri—mungkin juga menipu diri sendiri bahwa semua akan baik-baik saja.
Namun pukul 22.12 WIB, telepon kembali berdering. Acek Ali mengabarkan bahwa Romo Edu kehilangan kesadaran di rumah sakit. Kami diminta segera menyusul. Bagas langsung membangunkan Romo Pamungkas agar bersama-sama ke RS.
Waktu berjalan cepat, terlalu cepat.
Pukul 22.51 WIB, kabar itu datang: Romo Edu telah menghadap Bapa di Surga.
Hari ini mengajarkan satu hal yang pahit namun begitu nyata: bahwa hidup bisa berpindah dari senda gurau ke keabadian hanya dalam hitungan jam. Pagi masih duduk makan semangka, malam sudah berpulang. Tidak ada epilog panjang, tidak ada tanda perpisahan resmi—hanya keheningan yang tertinggal, dan kenangan yang mendadak terasa sangat dekat.
Selamat jalan, Romo Edu.
Terima kasih untuk tawa kecil, kritik jujur, dan kesederhanaan yang tak pernah dibuat-buat. Doakan kami yang masih berjalan tertatih di dunia ini.
