Kisah nyata, 12 Oktober
Ada tempat yang pada siang hari terasa biasa saja.
Ada gereja. Ada Gua Maria. Ada pendopo. Ada beberapa bangku untuk duduk, dan meja kecil. Ada tempat parkir. Ada lampu-lampu yang menerangi kompleks.
Tetapi setelah malam semakin larut, tempat yang sama bisa terasa sangat berbeda.
Bukan tempatnya yang berubah, tapi entah karena suasananya atau karena kita yang mulai menyadari bahwa tidak semua yang ada di sekitar kita selalu bisa dilihat.
Sudah lebih dari dua tahun saya hampir setiap malam berada di kompleks Katedral. Tepatnya di sekitar Pendopo Tan A Hak, yang berada di kompleks Gua Maria Katedral.
Bagi saya, tempat ini bukan tempat asing.
Saya sudah hafal sudut-sudutnya.
Hafal suara motor yang masuk.
Hafal orang-orang yang biasa datang.
Hafal siapa yang biasanya berhenti di pendopo, siapa yang hanya lewat, siapa yang mampir berdoa di depan Bunda Maria, dan siapa yang akhirnya ikut duduk sampai malam sambil bercanda.
Kadang berdoa Rosario sendiri.
Kadang ada yang datang hanya untuk berdoa di depan Bunda Maria.
Kadang ngobrol.
Kadang tertawa.
Dan, ya… kadang juga ghibah.
Sampai ada yang menjuluki kumpulan kami sebagai kelompok ghibah.
Tempatnya sama.
Orangnya itu-itu juga.
Rutinitasnya hampir selalu sama.
Karena itu, saya cukup tahu seperti apa rasanya kompleks ini ketika malam.
Dan justru karena sudah lebih dari dua tahun berada di sana hampir setiap malam, saya tahu ketika sebuah malam terasa tidak seperti biasanya.
## Malam 12 Oktober
Malam itu saya datang lebih awal dari biasanya. Istri tidak ikut, dia sedang pergi dengan anak bujang.
Sekitar pukul 19.30 WIB.
Kompleks Gua Maria Katedral sangat sepi.
Di dalam gereja hanya ada prodiakon yang sedang latihan koor. Tidak lama kemudian latihan mereka selesai dan satu per satu mereka pergi.
Tak lama kemudian, datang Romo Bona dari Pastoran.
Beliau mencari Romo Pamungkas.
Setelah itu beliau duduk sebentar di pendopo, menghabiskan sebatang rokok, lalu kembali menuju Catholic Center.
Dan akhirnya…
tinggal saya sendiri.
Kalau hanya dilihat dari situasinya, sebenarnya tidak ada yang aneh.
Kompleks Katedral memang sering sepi pada malam hari.
Tetapi malam itu ada sesuatu yang membuat kesunyian terasa lebih panjang.
Dua malam sebelumnya, tempat ini justru ramai.
Keuskupan Ketapang sedang berduka karena kepergian Romo Lintas.
Karangan-karangan bunga masih berjejer di sekitar halaman gereja.
Orang datang dan pergi.
Doa dan percakapan memenuhi tempat yang biasanya mulai sunyi setelah malam.
Sekarang semuanya sudah kembali senyap.
Hanya saya.
Pendopo.
Gua Maria.
Gereja.
Dan halaman yang kosong.
Sekitar pukul 20.15 WIB, dari kejauhan saya melihat sebuah motor mendekat.
Bang Yanto.
Saya langsung mengenali motornya.
Dalam pikiran saya, beliau akan seperti biasanya: datang, memarkir motor di dekat motor saya, kemudian berjalan menuju pendopo.
Motor Supra saya sendiri terparkir di dekat tiang lampu yang di bawahnya terdapat kran air.
Posisinya persis di antara Gua Maria dan Pendopo Tan A Hak.
Bang Yanto mendekat.
Motor berhenti di samping motor saya.
Saya masih duduk di pojokan pendopo.
Saya menunggu beliau turun.
Tapi tidak.
Bang Yanto hanya melihat sebentar ke arah saya.
Lalu…
berbalik.
Tidak ada sepatah kata.
Tidak ada gerakan menuju pendopo.
Motor kembali melaju meninggalkan halaman.
Saya mulai merasa aneh.
Ketika beliau sudah mendekati tong sampah di samping gereja, saya berteriak:
“Bang Yanto!!!”
Beliau menoleh sebentar.
Ekspresinya seperti orang yang sedang mencari sumber suara.
Beliau melihat ke belakang.
Ke arah pendopo.
Tapi entah apa yang dilihatnya.
Atau…
apa yang tidak dilihatnya.
Setelah beberapa saat, beliau kembali melaju keluar dari kompleks.
Saya kemudian mengambil HP dan mengirim WhatsApp.
“Bang, aku di pendopo bah.”
Beberapa saat kemudian, setelah beliau sampai di rumah, balasannya masuk.
“Wai…. di mane kau t?”
Saya jawab:
“Di pendopo bah.”
Kemudian balasan beliau:
“Haha… abis 10 km t perasaan t dak ade orang ak di pendopo t.”
Saya membaca pesan itu sambil terdiam.
Tidak ada orang di pendopo?
Padahal saya duduk di sana.
Sendirian.
Dan beliau baru saja berhenti di samping motor saya.
Saya mencoba tidak memikirkan itu.
Saya kembali menonton Dracin.
Namanya juga malam.
Mungkin beliau memang tidak melihat.
Mungkin dari posisi tertentu saya tidak kelihatan.
Mungkin…
Terlalu banyak kemungkinan masuk akal.
Saya memilih tidak memperpanjangnya.
Sampai beberapa saat kemudian…
Romo Pamungkas keluar dari Pastoran.
Seperti biasa dengan motor KLX-nya.
Ini justru lebih aneh.
Karena selama saya berada di pendopo, Romo Pamungkas keluar masuk melewati tempat itu.
Dan hampir selalu beliau menyapa orang yang sedang duduk di pendopo.
Tetapi malam itu…
Ketika melewati depan pendopo, beliau hanya menoleh sebentar.
Kemudian…
gas.
Tidak ada sapaan.
Tidak ada klakson.
Tidak ada lambaian tangan.
Tidak ada tanda bahwa beliau melihat seorang pria plontos yang duduk sendirian di pojokan pendopo.
Motor KLX itu terus melaju keluar kompleks.
Saya kembali diam.
Dua orang.
Dalam rentang waktu yang tidak terlalu lama.
Sama-sama tidak melihat saya.
Padahal saya ada di sana.
Beberapa saat kemudian HP saya berbunyi.
Pesan dari Leny.
“Otw ke Gua.”
Jam sudah mendekati pukul 21.00.
Saya masih duduk sendirian.
Kali ini saya semakin merasa suasana di tempat itu benar-benar berbeda.
Saya mematikan lampu Pendopo Tan A Hak.
Kemudian pindah ke kursi panjang.
Posisi duduk saya sekarang menghadap ke arah jalan di sekitar parkiran gereja.
Di depan sana masih terlihat deretan papan karangan bunga duka Romo Lintas.
Lampu-lampu di halaman keuskupan masih menyala, yang biasanya tempat itu gelap gulita.
Tetapi cahaya itu seperti tertahan oleh kabut asap.
Malam itu kabut semakin tebal.
Kompleks Katedral yang biasanya sudah saya kenal luar kepala, perlahan terlihat asing.
Gua Maria di satu sisi.
Gereja di sisi lain.
Pendopo di samping saya.
Jalan parkiran di depan.
Dan di antara semuanya…
kabut.
Rasanya seperti bukan sedang duduk di kompleks Gua Maria.
Seperti sedang berada di tempat lain.
Entah kenapa, malam itu saya teringat banyak hal selama lebih dari dua tahun berada di tempat ini.
Karena sebenarnya kejadian Bang Yanto dan Romo Pamungkas bukan satu-satunya hal yang pernah membuat saya merasa aneh di tempat ini.
Ada malam-malam tertentu ketika suasana tiba-tiba berubah.
Ada saat ketika kesunyian terasa seperti ada yang sedang memperhatikan.
Ada saat ketika sedang rosario, terdengar suara seperti orang terengah-engah kesulitan nafas persis di samping telinga kiri saya.
Ada suara atau gerakan yang kadang membuat saya menoleh, padahal ketika dilihat tidak ada siapa-siapa.
Saya tidak pernah buru-buru menyimpulkan bahwa itu sesuatu yang mistis.
Saya juga tidak pernah merasa perlu mencari-cari apa itu gerangan.
Tetapi kalau seseorang sudah duduk di tempat yang sama hampir setiap malam selama lebih dari dua tahun, dia akan tahu:
ada perbedaan antara tempat yang memang sedang sepi dengan tempat yang terasa seperti sedang ditemani sesuatu.
Dan malam itu…
perasaannya masuk ke kategori kedua.
Saya melihat jam.
Hampir pukul 21.00.
Kemudian dalam hati saya berkata:
“Kalau sampai jam sembilan tidak ada yang datang, aku pulang.”
Bukan karena takut.
Setidaknya saya tidak mau mengakuinya sebagai takut.
Hanya saja…
malam itu saya sudah tidak nyaman.
Beberapa menit kemudian akhirnya Leny datang.
Saya tidak perlu menjelaskan bagaimana leganya melihat satu orang masuk ke kompleks malam itu.
Tidak lama kemudian Mas Agus selesai mengunci pintu gereja.
Setelah itu kami pun beranjak pulang.
Dan malam tersebut selesai.
Atau setidaknya…
saya pikir selesai.
## Pagi harinya
Pagi ini saya ceritakan kejadian tersebut di DG.
Termasuk bagian ketika Bang Yanto tidak melihat saya.
Termasuk ketika Romo Pamungkas juga seperti tidak melihat saya.
Sampai akhirnya muncul komentar yang justru membuat suasana menjadi semakin tidak masuk akal.
Romo Pamungkas dan kawan-kawan malah tertawa.
Lalu ada yang berkata:
“Mungkin tanpa disadari ilmumu sekarang sudah meningkat, Don. Sudah bisa menghilangkan diri.”
Kami tertawa.
Tentu saja itu candaan.
Saya juga tidak tiba-tiba percaya bahwa saya punya ilmu menghilang.
Tapi setelah dipikir-pikir…
dua orang tidak melihat saya pada malam yang sama.
Di tempat yang sudah saya datangi hampir setiap malam selama lebih dari dua tahun.
Dan anehnya, saya justru tidak merasa sendirian malam itu.
Saya tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi.
Bisa saja semuanya punya penjelasan sederhana.
Sudut pandang.
Kabut asap.
Pencahayaan.
Pikiran yang sedang lelah.
Atau sekadar kebetulan.
Saya tidak ingin membuat kesimpulan yang tidak saya punya buktinya.
Tetapi yang saya tahu persis,
Saya mengenal tempat ini.
Saya tahu bagaimana suasananya ketika ramai.
Saya tahu bagaimana suasananya ketika sepi.
Saya tahu suara motor yang masuk.
Saya tahu orang-orang yang biasa duduk di pendopo.
Saya tahu bagaimana Gua Maria terlihat ketika malam.
Dan saya tahu bagaimana kompleks Katedral terasa ketika hampir tidak ada seorang pun di dalamnya.
Karena itu, ketika sebuah malam terasa berbeda…
saya bisa merasakannya.
Apakah benar ada sesuatu yang lain malam itu?
Atau hanya kebetulan yang kebetulan terasa terlalu sempurna?
Saya tidak tahu.
Yang saya tahu…
malam 12 Oktober itu, saya duduk sendirian di Pendopo Tan A Hak.
Saya ada di sana.
Bang Yanto tidak melihat saya.
Romo Pamungkas juga tidak melihat saya.
Dan di tengah kabut yang semakin tebal, di antara Gua Maria, gereja dan pendopo…
untuk pertama kalinya setelah lebih dari dua tahun saya duduk di tempat itu,
saya merasa seperti bukan hanya saya yang sedang berada di sana, walaupun nyatanya saya hanya seorang diri.
Mungkin memang tidak ada apa-apa.
Tapi kalau memang tidak ada apa-apa…
lalu malam itu, sebenarnya apa yang membuat tempat itu terasa tidak seperti biasanya ?
(foto diambil tanggal 14 September, sebulan yang lalu)
-FD-
