Walau langkahnya agak tertatih, sibori berisi Hosti Kudus itu tetap diangkatnya lebih tinggi dari kepalanya. Tangannya sedikit bergetar, bukan hanya karena usia, tetapi juga karena beban yang tak kasat mata. Setelah diambilnya dari tabernakel berwarna keemasan, ia berbalik perlahan kembali menuju altar.

Dialah Ardi.

Kepalanya botak, tertutup topi sederhana yang tampak sudah lama dipakai – stylenya sehari-hari. Wajahnya keras, dengan garis-garis lelah yang tak bisa disembunyikan. Tubuhnya tidak lagi tegap seperti dulu, dan pakaian yang dikenakannya selalu terlihat lusuh, tidak pernah benar-benar rapi.

Di tangan kanannya, tato full sleeve menjalar dari pergelangan hingga bahu. Tampak gelap, tegas, seperti cerita yang tak pernah sepenuhnya hilang. Beberapa titik tinta lain tampak menyembul dari balik kerah dan lengan bajunya. Bagi sebagian orang, itu hanya penampilan. Bagi yang lain, itu menjadi prasangka yang nyaris seperti vonis mati, seolah tinta di kulit cukup untuk menghakimi riwayat hidupnya. Padahal, apa yang dibayangkan orang tentang dirinya tidak selalu sejalan dengan kenyataan.

Beberapa waktu lalu, nama itu kembali beredar pelan, tidak pernah benar-benar meledak, tapi cukup lama tinggal dalam bisik-bisik umat. Sebuah kasus yang membuat sebagian orang menunduk saat menyebutnya, sebagian lain memilih diam, dan tidak sedikit yang diam-diam mengingatnya. Tidak semua tahu detailnya, tetapi cukup banyak yang tahu bahwa ada sesuatu yang tidak beres.

Dan Gereja, seperti biasa, tidak pernah sepenuhnya lupa, hanya memilih pura-pura lupa.

Ardi pernah menjadi ketua lingkungan, aktivis senior yang disegani. Ia dikenal cekatan, vokal, dan selalu hadir dalam hampir setiap kegiatan. Tetapi reputasi itu retak ketika ia tersandung persoalan yang entah disengaja atau tidak, telah menjadi batu sandungan. Tidak ada pengumuman resmi, tidak ada penghakiman publik. Namun umat punya cara sendiri untuk menyimpan di ingatan.

Kini, di hadapan altar, Ardi kembali berdiri sebagai prodiakon, pelayan luar biasa Komuni Kudus.

Di beberapa bangku umat, ada yang menerima Komuni darinya tanpa ragu. Di bangku lain, ada yang sedikit menahan napas, bahkan mungkin memilih antrian berbeda. Bukan karena mereka meragukan kehadiran Kristus dalam Hosti Kudus, tetapi karena manusia yang mengantarnya masih menyisakan pertanyaan yang belum terjawab.

Dan di situlah letak ketegangan yang tak pernah sepenuhnya selesai.

Gereja mengajarkan bahwa mereka yang diangkat menjadi pelayan luar biasa Komuni Kudus harus memiliki kehidupan iman dan susila yang menonjol, menjadi teladan, serta tidak menimbulkan sandungan bagi umat (bdk. Immensae Caritatis, no. 783). Standar itu ditetapkan untuk menjaga kesakralan Sakramen dan kepercayaan umat.

Tetapi realitas manusia tidak selalu bergerak dalam garis yang lurus-lurus saja.

Apakah seseorang yang pernah ‘jatuh’ masih layak melayani? Ataukah luka yang pernah dibuatnya terlalu dalam untuk diabaikan begitu saja? Di satu sisi, ada panggilan untuk pertobatan dan pemulihan. Di sisi lain, ada tanggung jawab untuk menjaga agar umat tidak tersandung.

Ardi tampaknya memilih menjawab pertanyaan itu bukan dengan kata-kata, tetapi dengan sikap. Setiap kali ia mengangkat sibori itu, ada sesuatu yang berbeda: seperti usaha diam-diam untuk menegaskan kepada dirinya sendiri dan kepada orang lain bahwa ia masih ingin setia.

Namun kesetiaan pribadi tidak otomatis memulihkan kepercayaan publik.

Dan mungkin di situlah Gereja, sebagai komunitas, diuji: bukan hanya soal memberi kesempatan kedua, tetapi juga tentang kebijaksanaan dalam menempatkan seseorang pada peran yang tepat, pada waktu yang tepat.

Sementara itu, di tengah perayaan Ekaristi yang terus berjalan, Ardi tetap melangkah perlahan, tertatih, dan teguh membawa Hosti Kudus dan membagikannya kepada umat katedral. (-FD-)