Aku menahan diri untuk tidak tergesa–gesa menutup halaman. Aromanya pahit, seperti banyak hal yang kubiarkan lewat tanpa suara selama 365 hari ini. Ada ketakutan yang tidak pernah aku akui, ada gundah yang kusimpan rapat agar tak ada yang melihat aku goyah.
Aku sering menampilkan diriku seolah baik–baik saja, padahal ada hari-hari ketika aku bangun hanya untuk bertahan—bukan untuk menang. Ada momen ketika aku merasa kehilangan arah, tapi tetap berjalan karena diam terasa lebih menakutkan. Dan aku harus jujur, tidak semua pilihan tahun ini layak dibanggakan. Beberapa malah kubiarkan membusuk di sudut hati, tak tersentuh, hanya karena aku takut mengakui kelemahannya.
Namun, di balik semua itu… aku masih hidup. Nafas ini masih naik–turun, seperti pengingat bahwa aku masih diberi kesempatan. Tubuhku masih memikul semua asa yang belum selesai. Dan meski aku tidak selalu bersyukur dengan lantang, aku tahu: tidak semua orang tiba di hari ini.
Jadi aku biarkan kopi pahit ini menjadi penanda. Bahwa pahit bukan tanda gagal. Bahwa bertahan pun layak dirayakan. Bahwa aku tidak perlu menunggu dunia tepuk tangan untuk merasa cukup.
Selamat tinggal, 2025. Aku melepasmu tanpa euforia, tapi dengan kepala tegak—karena aku bertahan melewatimu. Dan untuk nafas yang masih setia… aku siap mencoba lagi, mulai besok pagi.
-FD-
