Amarah yang mendidih bukanlah musuh. Ia adalah alarm.
Dan mematikannya tanpa mendengar pesannya hanya akan menunda kebakaran.
Minggu pagi, Ardi tiba di gereja pukul enam. Langit gelap, berat, seperti menyimpan badai. Cuaca tidak bersahabat, tapi anehnya hati Ardi justru ringan. Semalam ia tidur nyenyak. Barangkali karena kepalanya sudah lelah bergulat seharian.
Siangnya, pikirannya terintrusi cerita: Baptisan VIP – di tulisan sebelumnya. Percakapan-percakapan yang belum selesai, kegelisahan yang belum menemukan wadah. Malamnya, Mas Ezran sang mengajaknya ke Pendopo Naga. Arak No. 1 disuguhkan. Gelas demi gelas dituang. Mas Berto mutarkan lagu Sewu Kutho, mas El bercerita tentang kepiawaiannya main Suling pakai hidung. Mas Saz datang bawa Martabak Telor. Nostalgia Jogja mengalir—tentang masa-masa hidup tanpa beban. Tawa pecah. Hati hangat.
Ardi datang ke gereja pagi itu dengan mood yang seharusnya baik.
Namun segalanya berubah seketika.
Di tengah iringan pastor dan para petugas liturgi, Ardi melihat seorang bapak. Ia mengenalnya. Bukan dekat, tapi cukup tahu. Secara terbatas, bapak itu sedang tersangkut persoalan serius. Belum selesai. Belum jelas. Masih kabur.
Jantung Ardi berdetak lebih cepat.
Singkat cerita, Bapak itu maju membagikan Hosti. Tangannya terulur satu per satu. Lalu ia membereskan sibori. Ia melangkah ke tabernakel, menyimpan Tubuh Kristus, lalu kembali ke tempatnya seolah tak ada yang ganjil.
Di dada Ardi, sesuatu mendidih.
Bukan karena ingin menghakimi. Bukan pula karena merasa paling suci. Bahkan Ardi tidak sedang memutuskan apakah bapak itu bersalah atau tidak. Yang ia rasakan sederhana: belum waktunya.
Belum waktunya bertugas. Belum waktunya berdiri di ruang paling sakral ketika persoalan hidupnya sendiri belum clear.
Dan bukan hanya Ardi yang tahu cerita itu.
Amarahnya naik bukan karena gosip, tapi karena luka-luka kolektif yang hadir silih berganti . Gereja, di matanya, tampak seperti sedang memilih diam. Melakukan pembiaran. Seolah-olah umat baik-baik saja.
Detak jantung makin cepat. Napasnya memendek. Di kepalanya terbersit pikiran yang bahkan mengejutkan dirinya sendiri: maju ke mimbar pengumuman. Mengajak umat boikot misa pagi itu.
Tapi ia tidak bergerak.
Ia hanya menarik napas panjang. Menahannya. Lalu menghembuskannya pelan. Berkali-kali. Sampai misa berakhir.
Alarm itu berbunyi keras di dalam dirinya, tapi ia memilih mematikannya—bukan karena masalahnya selesai, melainkan karena ia tak tahu harus berbuat apa.
Dalam khotbahnya, pastor berkata,
“Hendaknya kita belajar untuk lembut hati, ikuti kehendak Tuhan, jangan kehendak kita.”
Kalimat itu indah. Bahkan benar.
Namun pagi itu, kalimat itu justru membuat Ardi bingung.
Jika demikian, apakah kejadian pagi ini juga kehendak Tuhan?
Apakah kegelisahan yang mendidih di dadanya hanya kehendaknya sendiri?
Atau justru alarm yang Tuhan nyalakan—namun tak diberi ruang untuk didengar?

Ardi tidak mendapatkan jawabannya pagi ini.
Ia hanya tahu satu hal: emosi yang ia rasakan bukan datang dari kebencian, melainkan dari kepedulian yang tak menemukan saluran. Dari iman yang masih peduli pada keselarasan antara altar dan kehidupan. Dari hati yang belum mati rasa.
Dan mungkin, di situlah letak bahayanya.
Bukan pada emosi yang mendidih.
Melainkan pada kebiasaan mematikannya demi ketenangan semu.
Karena api yang dipadamkan tanpa diperiksa sumbernya, tidak benar-benar padam.
Ia hanya menunggu waktu—
untuk membakar dengan cara yang jauh lebih merusak.
