Persis sudah tiga kali Bulan Maria kulewati dengan rutinitas belajar mendaraskan Rosario, dan dengan rutinitas mengunjungi Gua Maria Katedral. Dari 730 hari yang terlewati, mungkin terhitung kurang dari 20 hari diriku absen. Selebihnya, langkah ini hampir selalu tahu ke mana harus menuju: kepada doa, kepada keheningan, kepada tempat kecil yang menjadi ruang teduh di tengah riuhnya hidup.
Jika Rosario tidak sempat kudaraskan di Gua Maria, maka kudaraskan di rumah. Ada malam-malam ketika mata sudah terlalu mengantuk, tubuh meminta segera rebah, dan pikiran nyaris tak sanggup lagi fokus. Namun justru pada saat seperti itu aku memaksakan diri bangun dan berdoa. Bukan karena merasa hebat, melainkan sebagai tanda Rosario tetap kuusahakan bahkan dalam kondisi paling lemah. Kadang iman tidak terlihat saat kita kuat, tetapi saat kita tetap bertahan ketika tenaga hampir habis.
Ada hari-hari ketika aku datang ke Gua untuk mendaraskan Rosario, menyusuri setiap butir doa dalam ketenangan. Ada juga hari ketika aku datang tanpa banyak kata, hanya duduk diam, menepi sejenak dari dunia yang terlalu ramai. Tidak setiap kunjungan harus dipenuhi kalimat; kadang kehadiran saja sudah cukup menjadi doa.

Gua Maria bagiku bukan sekadar tempat devosi. Ia menjadi ruang singgah, tempat menata napas, membereskan pikiran, dan menguatkan hati sebelum kembali menghadapi kenyataan sehari-hari. Saat kepala penuh dan dada terasa berat, di sanalah aku belajar bahwa diam pun bisa menyembuhkan.
Aku bukan orang yang sempurna. Aku datang sebagai manusia biasa, membawa lelah, membawa beban, membawa banyak hal yang belum selesai. Kadang setelah duduk tenang, kusempatkan ngudut sebatang Esse , lalu berdiri dan kembali lagi ke “dunia”.
Tiga kali Bulan Maria telah kulewati. Yang berubah bukan hanya hitungan waktu, tetapi juga diriku perlahan. Tidak menjadi suci, tidak serta-merta tanpa cela, namun menjadi manusia yang sedikit lebih tenang, sedikit lebih kuat, dan sedikit lebih paham tentang kesetiaan yang sering kali lahir dari langkah sederhana yang terus diulang, bahkan ketika diri sedang paling lemah.
Selamat memasuki bulan devosi kepada Bunda Maria ..
–FD–
