Belajar Diam

Belajar Diam


Aku harus mengakui satu hal: sering kali masalah dalam pertemanan bukan karena orang lain terlalu sensitif, tetapi karena aku terlalu merasa benar. Ego itu licik. Ia menyamar sebagai kepandaian, logika, bahkan kejujuran. Padahal ujungnya sama, hanya ingin menang, ingin diakui, ingin terlihat lebih tahu.

Aku berbicara seolah sedang membantu, padahal sedang memamerkan kelebihan. Aku bercanda seolah ringan, padahal ada nada merendahkan. Aku mengkritik dengan dalih jujur, tanpa peduli apakah kejujuran itu membangun atau justru melukai. Lidah ini terlalu sering berjalan lebih cepat daripada hati.

Yang paling berbahaya bukan kata-kata kasar, melainkan kata-kata pintar yang tidak disertai empati. Aku lupa bahwa relasi tidak butuh pamer kecerdasan. Pertemanan tidak diukur dari siapa yang argumennya paling mantap, tetapi siapa yang paling mau mengerti.

Aku juga harus jujur: merasa paling pandai adalah cara tercepat untuk menuju sendirian. Tidak ada persahabatan yang tahan lama jika salah satu merasa lebih tinggi. Tidak ada canda yang sehat jika ego selalu ingin unggul.

Maka aku perlu belajar satu hal yang sederhana tapi menyakitkan: menahan diri. Tidak semua pendapat perlu disuarakan. Tidak semua kesalahan orang lain perlu dikoreksi. Tidak semua momen butuh aku tampil pintar.

Lebih baik dianggap biasa, daripada benar tapi kehilangan teman. Lebih baik diam, daripada bicara dan meninggalkan luka. Ego tidak pernah membangun relasi, ia hanya sibuk membangun panggung untuk diri sendiri.

Jika aku ingin menjaga persahabatan, maka yang pertama harus dijaga bukan orang lain, tetapi lidahku sendiri.

Belajar dan terus belajar…