Hari Minggu itu, Ardi datang ke Katedral seperti biasa. Ia memilih duduk di balkon sound system —tempat favoritnya sejak lama, sejak ia mulai merasa ada sesuatu dalam Gereja yang tidak lagi seperti dulu. Dari sudut itu, ia bisa melihat semuanya tanpa harus menjadi bagian dari keramaian.
Lagu pembuka baru saja selesai ketika matanya tiba-tiba tertarik pada sesuatu yang tidak seharusnya ada: seorang Pria, wajah-Nya lembut namun sarat kuasa, duduk di kursi uskup, diam, tidak bergerak, tidak bersuara. Bukan pastor, bukan prodiakon, bukan siapa pun yang dikenalnya. Tapi Ardi tahu persis siapa Dia.
Yesus.
Duduk di kursi uskup.
Tidak ikut menjadi selebran.
Hanya… memperhatikan.
Ardi menatap lama, sebelum akhirnya berbisik dalam hati, “Tuhan… kenapa Engkau malah duduk di situ? Kenapa tidak ikut berdiri di altar bersama imam?”
Dan jawaban itu hadir—bukan sebagai suara yang memekakkan, tetapi sebagai getaran yang langsung menghantam nuraninya.
“Aku Mahakudus.
Aku Mahakuasa.
Aku Maha Rahim.
Dan Aku duduk di sini… karena di altar-Ku, tidak semua yang berdiri di sana berdiri dengan hati yang bertobat.”
Ardi terdiam. Nafasnya tercekat.
Desember ini adalah bulan terakhir untuk Peziarah Pengharapan—bulan terakhir untuk orang berbondong-bondong melewati Porta Sancta hanya demi satu kata yang terasa seperti tiket VIP rohani: indulgensi. Orang berlomba, saling mendahului, saling pamer jumlah ziarah. Seakan-akan keselamatan bisa dicatat seperti meteran listrik.
Ardi sering bertanya dalam hati: “Semudah itu kah mendapatkan indulgensi? Benarkah hanya dengan melintasi pintu tertentu, dosa bisa berkurang tanpa hati ikut berubah?”
Sebab setiap kali melihat para peziarah, ia merasa ada ironi besar yang terabaikan: mereka melintasi Porta Sancta, tetapi hidup tetap sama, kata-kata tetap tajam, gosip tetap deras, rasa iri tetap subur.
“Apa gunanya melewati pintu suci kalau hati tidak pernah membuka pintu pertobatan?” pikir Ardi.
Ia menatap pintu itu—pintu yang megah, seolah menjadi pintu “masuk” menuju belas kasih Allah. Tetapi sebuah pikiran sinis muncul, memotong kekhusyukan yang seharusnya ia rasakan.
“Apa arti pintu suci dipasang megah di gerbang Katedral jika di ‘dalamnya’ masih banyak kebatilan—intrik, kepentingan, dosa, dan skandal yang ditutup rapat demi nama lembaga?”
Ia benci memikirkan ini. Ia mencintai Gereja. Ia sudah mencintainya sejak kecil. Tetapi ia bukan lagi anak kecil yang menutup mata terhadap kenyataan. Katedral ini indah, iya. Liturginya megah, iya. Tetapi ia tahu bahwa keindahan bisa menyembunyikan luka. Cahaya lilin bisa memantulkan bayangan panjang.
Ia melihat kembali Pria yang duduk di kursi uskup itu.
Yesus menatap umat-Nya—bukan dengan marah, tapi dengan kesedihan yang dalam.
Seolah berkata:
“Aku akan selalu ada di rumah ini.
Tapi rumah-Ku tidak selalu mencerminkan wajah-Ku.”
Ardi merunduk, merasa malu. “Kalau begitu, siapa yang harus berubah?”
Lalu jawaban itu muncul lagi, sederhana… tapi menampar:
“Engkau.
Setiap hari.
Pertobatan bukan ritual.
Pertobatan adalah hidup.”
Ardi tiba-tiba menyadari sesuatu: mungkin ia terlalu sibuk menilai Gereja sampai lupa menilai dirinya. Bukan berarti Gereja tidak punya masalah—Gereja jelas punya banyak. Ia tidak menutup mata. Ia bahkan masih marah. Tetapi kemarahan itu tidak menghapus kenyataan bahwa dirinya pun harus berubah, harus memperbaiki hidup, harus bertobat setiap hari.
Ia menatap kembali Porta Sancta.
Kali ini bukan sebagai pintu ajaib…
tetapi sebagai pengingat bahwa pintu sejati yang harus ia lintasi adalah pintu batinnya sendiri.
Di akhir misa, Yesus tidak lagi ada di kursi uskup. Kursi itu kembali kosong, seperti biasanya. Tetapi Ardi tahu—bukan pastor, bukan liturgi, bukan bangunan—yang menegur dan menguatkannya hari ini.
Ia berdiri, membuat tanda salib, dan bergumam dalam hati:
“Jika Gereja hari ini penuh masalah, maka aku harus menjadi bagian kecil dari perbaikannya—minimal mulai dari diriku sendiri.”
Dan entah mengapa, untuk pertama kalinya setelah lama skeptis, ia melangkah keluar dari Katedral dengan perasaan yang aneh: marah pada Gereja, tetapi sekaligus semakin jatuh cinta pada Tuhan yang tidak menyerah pada Gereja-Nya.
Ziarahnya baru dimulai—bukan pada pintu suci,
melainkan pada pertobatannya sendiri.
Depan Gereja 05/12,
–FD–
