Ada hal yang selalu menarik perhatian saya: bagaimana manusia sering kali hanya menerima sesuatu dalam bentuk yang sudah terbiasa ia lihat. Begitu muncul bentuk lain, meski esensinya sama, muncul rasa asing, bahkan penolakan. Tentang sosok Bunda Maria misalnya.

Sejak kecil, kita dibiasakan dengan gambaran Maria berkulit putih, berwajah Eropa, berbusana biru dan putih. Itu menjadi citra ideal yang menempel kuat dalam imajinasi. Lalu, ketika diperlihatkan patung Black Madonna dari Montserrat, Maria dengan kulit hitam pekat, wajah yang tak lagi “Eropa“, ada sebagian orang yang langsung merasa aneh. “Ini bukan Maria”, begitu kira-kira reaksi yang muncul. Padahal, bukankah Maria tetap Maria, tak peduli bagaimana budaya dan seniman menampilkannya?

Fenomena ini mengingatkan saya bahwa yang kita tolak sering kali bukan kebenarannya, melainkan bentuk yang berbeda dari kebiasaan kita. Kita merasa nyaman pada pola yang sama, lalu gelisah begitu pola itu diganggu. Seakan-akan iman kita bukan pada sosoknya, tetapi pada bayangan yang sudah kita bentuk sendiri.

Saya lalu jadi berpikir, mungkin penolakan itu bukan soal warna dan bentuk Maria, melainkan soal keberanian kita untuk keluar dari “zona aman” imajinasi. Karena pada akhirnya, Maria bukan milik satu budaya atau warna kulit, melainkan ibu dari semua bangsa.

Mungkin karena itu juga, selama ini saya cenderung mengambil posisi berbeda pada banyak situasi. Saya lebih nyaman berada di jalur anti-mainstream, mencoba berpikir di luar konteks kebiasaan banyak orang. Bagi saya, justru di sanalah iman dan akal diuji: berani atau tidak menerima sesuatu yang sama benarnya, meski tampil dalam bentuk yang asing bagi kebiasaan kita.