Melihat Rotan dalam Bingkai Potret (3-selesai) – Fotografer Bangga Bisa Pamerkan Karya

Kerajinan rotan.

Laporan Wartawan Tribun Pontianak, M Arief

FOTOGRAFER komunitas Pedahasan Tikar Selembar bangga karya-karyanya bisa dipamerkan di ajang pameran fotografi dengan tema Potret Tradisional Kerajinan Rotan, di Gedung Bina Utama, 13-15 Januari lalu.
Foto yang dipajang merupakan karya dua anggota, yakni Frans Doni (28) dan Erik Sulidra (25). Kedua fotografer putra lokal ini fokus membidik momen-momen yang menceritakan seni dan budaya daerahnya.
Menurut Erik, ada kebanggaan tersendiri ketika mampu menyajikan foto dengan objek seni dan budaya daerah asalnya.
“Adat dan tradisi daerah itu sangat unik, karena di daerah lain tidak bakal ada,” tuturnya kepada Tribun, Sabtu (15/1/11) malam.
Bandingkan dengan karya foto-foto model yang disebut Erik sebagai foto salon. Karya jenis ini terdapat di negara manapun.
“Kita pergi ke daerah atau negara manapun, foto-foto salon itu sangat mudah ditemukan,” jelas Erik.
Pameran fotografi yang diselenggarakan Pedahasan Tikar Selembar itu merupakan yang pertama di Ketapang. Itu juga yang menjadi kebanggaan bagi Erik.
“Kami punya tekad menggelorakan fotografi di daerah ini, khususnya di kalangan muda,” tekadnya.
Ketua panitia pameran, Rizki menuturkan, target pengunjung yang semula dipatok 100 orang, ternyata mencapai 177 saat hari penutupan. Selama pameran berlangsung, belasan foto akhirnya dibeli oleh pengunjung. Hasil kerajinan rotan yang ikut dipajang, separuhnya juga habis terjual.
“Peminat gelang rotan yang paling banyak, kami sampai kehabisan persediaan,” ujar Rizki.
Kurator pameran, Iwan Jola mengatakan, ada beberapa hal yang menjadi catatan dari penyelenggaraan pameran itu.
“Komposisi karyanya sudah bagus, hanya saja tehnik displaynya yang perlu diperbaiki,” ungkap fotografer kelahiran Kalbar yang berdomisili di Yogyakrata ini.
Dia mencontohkan, pada setiap foto yang di-display, ditampilkan tulisan dari pihak sponsor. Padahal itu tidak boleh terjadi dalam sebuah pameran fotografi.
“Gedung serta pencahayaannya, juga kurang memenuhi syarat,” kata Iwan.
Namun sebagai pemula, apa yang dilakukan Pedahasan Tikar Selembar, menurut Iwan perlu mendapat apresiasi. Tak hanya itu, iven tersebut berhasil sebagai sentilan bagi pemerintah daerah.
“Anak-anak mudanya mampu berkarya, tapi pemerintah tidak mampu memfasilitasinya dengan layak,” ujarnya. (*)

http://pontianak.tribunnews.com/read/artikel/19008

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *