Memotret Pengrajin Rotan Dusun Terpencil (1) – Rombongan Tersesat di Tengah Malam

Seorang warga Dusun Sempadian, merentangkan rotan yang baru diperoleh dari hutan. Rotan itu merupakan bahan baku pembuatan aneka kerajinan.

Pernahkah Anda mendengar nama Dusun Sempadian? Bukan perkara gampang mengakses dusun yang sekitar 200 kilometer jaraknya dari Kota Ketapang.

Apa istimewanya Dusun Sempadian? Rupanya di tempat terpencil yang hanya dihuni 150 kelapa keluarga itulah, kerajinan rotan berkualitas tinggi dihasilkan.
Sayangnya, pemasaran justru lebih banyak ke provinsi tetangga, Kalimantan Tengah, yang mudah dijangkau lewat jalur sungai. Sementara untuk ke Kota Ketapang, buruknya infrastruktur jalan menjadi satu-satunya halangan.
Akibatnya, kecantikan kerajinan rotan dari dusun itu belum banyak dikenal, justru di ibu kota kabupatennya sendiri. Inilah yang mendorong empat anak muda dari Komunitas Pedahasan Tikar Selembar, sebuah kelompok seni dan budaya di Ketapang, untuk berkunjung ke sana.
Erik, Doni, Yofri, dan Pipensius, melakukan dokumentasi secara utuh proses pembuatan kerajinan itu.
“Kami mendengar, ada dusun yang jadi sentra kerajinan rotan. Tapi jarang terpublikasi. Ini yang mendorong kami ke sana,” ujar Erik, yang bertindak sebagai kepala rombongan.
September lalu, ekspedisi kecil-kecilan ini mereka lakukan. Lucunya, tak satu pun dari anggota rombongan mengenal dusun tersebut.
Mereka hanya berbekal petunjuk seorang teman, yang menceritakan aktivitas yang hampir tak pernah terpublikasikan itu. Akhirnya, dengan modal nekad, keempatnya memulai perjalanan dengan sepeda motor.
Dusun Sempadian merupakan bagian dari Desan Terusan, Kecamatan Manis Mata. Sekitar pukul 12.00 WIB, rombongan berangkat meninggalkan Kota Ketapang.
Perjalanan tidak mulus. Doni menuturkan, mereka sempat mengalami pecah ban, diguyur hujan lebat, bahkan bocor tanki bensin.
“Paling parah, kami tersesat di jalan buntu dekat Desa Sengkuang, dan saat itu pukul 10 malam. Beruntung ada karyawan perusahaan tambang membantu menyeberangkan kami dengan perahu kelotok,” ujar Doni.
Sampai ke Desa Sengkuang, mereka memutuskan menginap di rumah kepala desa. Sebab perjalanan menuju Dusun Sempadian perlu waktu satu jam, sementara kondisi jalan sangat buruk menyulitkan perjalanan di tengah malam. (severianus endi)

 

2 thoughts on “Memotret Pengrajin Rotan Dusun Terpencil (1) – Rombongan Tersesat di Tengah Malam”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *