Melihat Rotan dalam Bingkai Potret (1) – Kami Khawatir Kerajinan Itu Akan Punah

Bupati Ketapang Henrikus (kanan) meninjau pameran fotografi, Kamis malam.Laporan Wartawan Tribun Pontianak, M Arief

PERLU upaya untuk terus melestarikan kesenian dan kebudayaan tradisional. Karena jika tidak, bisa jadi anak cucu kita hanya mendengarnya sebagai sebuah dongeng.
Semangat itulah yang coba digelorakan oleh Komunitas Seni dan Budaya “Pedahasan Tikar Selembar”, ketika menggelar Pameran Fotografi yang bertempat di Gedung Bina Utama, Jalan Gatot Subroto, Ketapang, Kalimantan Barat, pada 13-15 Januari 2011.
Pedahasan Tikar Selembar merupakan komunitas yang concern pada seni dan budaya daerah, khususnya di Ketapang. Komunitas ini terdiri dari sekitar 40 warga Ketapang, yang mayoritas merupakan alumni kampus-kampus di Yogyakarta.
Pameran fotografi itu mengangkat tema Potret Tradisional Kerajinan Rotan. Ada 68 foto yang dibingkai dalam 25 frame ditampilkan dalam pameran tersebut. Sebagian dari foto-foto itu memang menggambarkan aktivitas pengrajin-pengrajin rotan di sebuah dusun di pedalaman.
Seksi publikasi panitia pameran, Frans Doni mengatakan, kerajinan rotan yang menjadi inspirasi pameran, tepatnya berada di Dusun Sempadian, Desa Terusan, Kecamatan Manis Mata.
“Semua kepala keluarga yang ada di dusun itu bekerja sebagai pengrajin rotan,” ungkap Doni.
Hasil kerajinan rotan itu bermacam-macam bentuknya, seperti tikar lampit, tudung saji, hingga gelang. Sayangnya, hasil kerajinan dari Sempadian justru tidak dipasarkan di Kota Ketapang.
Karena sulitnya transportasi ke Kota Ketapang, maka warga Sempadian lebih memilih untuk memasarkan hasil kerajinannya ke Kalimantan Tengah.
Melalui pameran fotografi yang diselenggarakan komunitasnya, Doni berharap semua pihak menaruh perhatian terhadap kerajinan rotan Sempadian.
“Kami khawatir kerajinan itu akan punah. Sengaja kami angkat supaya banyak pihak yang mengenalnya,” tutur Doni.
Selain mengenalkan kerajinan rotan Sempadian, pameran juga dimaksudkan untuk memasyarakatkan fotografi bagi warga Ketapang.
“Ini merupakan pameran fotografi pertama di Ketapang. Fotografi sebagai sebuah seni, kami harap bisa semakin berkembang di daerah ini,” katanya.
Pameran fotografi di Gedung Bina Utama itu dibuka oleh Bupati Ketapang, Henrikus, Kamis (13/1) malam. Selama dua hari berikutnya, pameran akan berlangsung mulai pukul 15.00-21-30 WIB. Jadwal pada Jumat ini akan digelar workshop fotografi sebagai rangkaian pameran tersebut.
Bagi pengunjung yang berminat, foto-foto yang dipajang pada pameran tersebut juga dapat dibeli.
“Tapi tujuan kami bukan untuk komersil. Fokus kami tetap pada seni. Kalau pun ada yang membeli, uangnya akan digunakan untuk membiayai kegiatan Pedahasan,” jelas Doni. (bersambung)

http://pontianak.tribunnews.com/read/artikel/18924

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *